translate languages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

10 Jul 2010

Kemanakah maut menyeret ??

Keyakinan adalah tuntutan hidup yang penting. tanpa keyakinan, pupuslah gairah hidup. Hidup tak ada tempat bersandar.

Pada tahun 1895, diadakan perjanjian shimonoseki antara pemerintah Jepang dan RRC. saat itu, Jepang diwakili olah Perdana Menteri yang punya keyakinan diri tinggi. saat akan pergi mengemban tugas, mendadak putri tercintanya jatuh sakit. Sebelumnya, ia sudah berpesan pada keluarga jika tak ada hal penting jangan menyuratinya. tepat di hari penandatanganan, mendadak datang sepucuk surat dari rumah yang menyatakan kondisi kesehatan putrinya amat buruk dan berharap dapat bersua dengan sang ayah untuk yang terakhir kalinya.

Saat itu Menteri Luar Negeri datang menghampiri, "Pulanglah, biarlah semua urusan saya yang mewakili." kemudian Perdana Menteri tersebut bergegas pulang ke rumah untuk menemui puterinya yang sudah sakit sekarat.


Melihat sang ayah yang dinanti nantikan sudah hadir di sampingnya, berkatalah si anak, "Ayah, saya akan berpisah denganmu untuk selamanya, Ada satu pertanyaan terasa menyesak di hati saya, sambil menanti jawaban darimu."

"Pertanyaan apa itu?" "Yah, kemanakah saya pergi setelah meninggal nanti?" Sang Perdana Menteri merupakan seorang Jenderal gagah berwibawa penuh kepercayaan diri, tapi begitu menghadapi kenyataan dari sebuah pertanyaan yang diajukan oleh puterinya sendiri, serta merta dia terbenam dalam kebingungan dan tak jelas harus bagaimana menjawab.

"Ke manakah kita akan pergi bila maut datang, saya sendiri tidak tahu. Tapi saya sering melihat ibumu membaca paritta suci, papa yakin Buddha pasti akan membawamu ke suatu tempat yang indah." setelah mendengar jawaban sang ayah, si anak pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Darimana kita datang dan kemana maut menyeret? masih merupakan pertanyaan yang kabur bagi Sang Jenderal. Semenjak itu, dia mulai tekun mendalami Buddha-Dharma dan akhirnya memilih hidup sebagai Bhiksu.

PENJELASAN:
Dalam enam jalur roda punarbhava, peristiwa samsara merupakan perkara besar dalam hidup manusia. Para pembina di zaman silam telah menyadari kenyataan peristiwa samsara yang tragis ini hingga mereka rela meninggalkan segala-galanya demi berjuang mencapai kesucian guna terbebas dari kungkungan samsara. Sebaliknya, manusia awam menganggap dukha sebagai sukha, palsu sebagai sejati, hingga terlena dalam mimpi yang melenakan, hingga menanam benih-benih karma.

maspeypah
  • Digg
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • TwitThis

Artikel Menarik Lainnya



Komentar :

ada 0 comment ke “Kemanakah maut menyeret ??”

Posting Komentar