translate languages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

17 Agu 2010

Manusia boleh hina Tapi Hati Jauh dari Hina


Yan Jiaqi menulis sebuah peribahasa: Ren Zhi Jian Ze Wu Di, Ren Zhi Gui Ze Wu You.

Artinya, orang kalau sudah hina, sudah tidak mempunyai apapun yang tersisa lagi, tidak akan ada orang yang berpikiran untuk mendapatkan sesuatu dari diri Anda, maka dia tidak mempunyai musuh. Sebaliknya, jika orang memiliki kekayaan atau jabatan tinggi, semua orang akan mencari muka atau menjilat Anda, maka sulit untuk mendapatkan seorang teman sejati.

Peribahasa tersebut bermaksud baik, telah mengutarakan sebuah prinsip tertentu tentang bagaimana manusia harus membawa diri dalam masyarakat. Tetapi peribahasa ini mempunyai perkecualian. Misalkan sebagai contoh, ketika saya menjalani kerja paksa di sebuah perkebunan, dengan mengenakan topi sebagai pekerja paksa, boleh dikatakan sudah amat hina, tetapi bukan tidak ada musuh. 



Hanya bisa dikatakan bahwa kebanyakan orang tidak sudi bermusuhan dengan saya, tetapi masih ada orang yang mencari masalah dengan saya. Ada orang yang tanpa suatu alasan menginjak-injak harga diri saya, untuk menunjukkan keteguhan pendiriannya kepada pimpinan. Juga ada sesama pekerja paksa yang taraf hinanya hampir sama dengan saya, juga datang ke hadapan saya untuk menggencet saya, untuk mendeteksi dan menemukan apakah harga dirinya masih ada.

Demikian juga orang yang makmur, jika ia masih memilki pikiran jernih dan jelas, meski memilki cukup uang dan kedudukan, tetapi dengan tidak segan-segan ia masih mau bergaul secara wajar dengan segala kalangan, maka kesempatan dia untuk menemukan teman sejati akan lebih banyak.

Saya berbicara demikian bukan mengatakan bahwa peribahasa tersebut salah, tetapi seperti halnya peribahasa-peribahasa yang lain, ia juga memiliki keterbatasan dan kecenderungan menyembunyikan sebagian dari kebenaran yang ada. 

Seperti saya pribadi lebih suka mengubah peribahasa tersebut menjadi: Orangnya boleh hina tetapi hati jauh dari hina, tubuhnya boleh berharga tetapi dengan sosok tidak congkak.

Peribahasa ini lebih banyak menyemangati daripada menggurui. Mengenang kembali kehidupan diri sendiri selama ini, saya merasakan bahwa bisa melakukan dua hal tersebut merupakan persoalan yang paling sulit: Ketika manusia berada dalam kesulitan, dalam situasi yang paling hina, tetapi dia dapat mempertahankan suasana hatinya menjauh dari kehinaan, dan kedua, ketika seseorang berada dalam kondisi dimana segalanya lancar, tetapi dia bisa memandang diri sendiri sebagai orang biasa, senantiasa dapat membawa diri dan memperlakukan orang lain dengan tulus dan hormat. 

Yang saya katakan di sini mutlak bukan rendah hati, jika rendah hati berarti kita merasa diri kita sendiri dalam situasi yang lebih tinggi daripada pihak lain dan kita bersikap lebih tulus dan hormat, tidak sombong. Sedangkan taraf yang dicapai oleh  tubuh berharga dengan sosok tidak congkak di sini adalah tidak merasa diri sendiri lebih unggul dari orang lain, melihat dengan sangat jelas sekali dan menyadari secara total ha-kiki dari pasang surutnya kemewahan dalam dunia fana ini.

Orangnya boleh hina tetapi hati jauh dari kehinaan, tubuh boleh berharga tetapi dengan sosok tidak congkak, diantara dua ungkapan ini, ungkapan kedua lebih sulit untuk dilaksanakan. Jika dilihat dari sepanjang hidup saya sendiri, sewaktu saya dalam kamp kerja paksa, boleh dikatakan saya hanya bisa lulus pas-pasan dalam menjalankan ungkapan orang boleh hina hati jauh dari kehinaan. Dikemudian hari ketika mendapatkan sedikit keberhasilan, rasa puas pada diri sendiri terekspresi pada wajah, hari ini jika saya kenang kembali keadaan pada saat itu saya merasa sangat malu dan menyesal sekali. 

Beruntung sekali saya bisa dengan tegas mundur dalam arus deras, dengan mantap melepaskan kebahagian semu yang membuai, mencari ketenangan dalam lingkungan yang  menyatu dengan alam. Jika tidak saya akan berjalan di jalan yang berkelok, siapakah yang bisa menjamin saya tidak akan menjadi pejabat korup yang satu tangan merangkul beberapa isteri muda, dan tangan yang lain meraup uang jutaan?

Saya benar-benar bersyukur dengan nasib yang telah membawa saya ke dalam posisi yang bisa saya kendalikan sendiri. (Qiu Shan/The Epoch Times/lin)

maspeypah
  • Digg
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • TwitThis

Artikel Menarik Lainnya



Komentar :

ada 0 comment ke “Manusia boleh hina Tapi Hati Jauh dari Hina”

Posting Komentar