translate languages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

6 Sep 2010

Mengalah juga Merupakan kebahagiaan

Tolstoy, penulis kenamaan Rusia, dalam pendahuluannya di sebuah buku berjudul  Anna Karenina  menulis: “Keluarga yang bahagia semua sangat mirip, sedangkan keluarga yang tidak bahagia memiliki kemalangannya sendiri.”


Prinsip yang mudah untuk memahaminya adalah terdapat seribu satu macam perbedaan antar kemalangan. Namun di manakah letak kemiripan antar kebahagiaan? 

Sesungguhnya terdapat petunjuk yang dapat diperoleh di antara tetangga, lorong serta gang-gang di perkampungan, pada cuplikan kehidupan biasa, mungkin dapat memberitahu jawabannya pada kita.


Suatu pagi, gerimis telah mengganggu rutinitas sehari-hari ayah ibu. Mereka berdua belum berangkat berolahraga, malah berceloteh di luar rumah seperti sedang berdiskusi dengan suasana yang cukup hangat. Ketika selesai berkemas dan siap berangkat ke kantor, tak terduga menemukan mereka berdua duduk di depan tangga di bawah atap beranda sedang membicarakan urusan rumah.

Mereka asyik membicarakan perancah yang baru dibangun di kebun halaman dan kondisi pertumbuhan buah-buahan dan bunga. Tampaknya terdapat perselisihan, namun nada bicaranya tidak kasar juga tidak lembut, intonasinya juga tidak marah atau berapi-api. Sangat berbeda dengan perselisihan sehari-hari, gambaran yang terlihat ini membuat orang tersenyum, diam-diam merasa senang.

Mereka menikah sudah hampir setengah abad. Dalam urusan dunia fana, mereka sudah mempunyai prosedur dan irama unik sendiri dalam menanggung dan menghadapinya, tidak memerlukan campur tangan orang ketiga. Peribahasa mengatakan, “Berselisih di kepala ranjang dan berbaikan di ekornya.” Dapat hidup bersama sampai usia tua juga merupakan kebahagiaan.

Saat makan malam, terdengar dering telepon yang tidak sabaran, seolah mengisyaratkan gelora perasaan penelepon. Ternyata berita gembira dari bibi. Cucu perempuannya yang baru lulus kuliah, setelah melalui ujian beruntun berhasil menyisihkan ratusan pesaing lain. Dia terpilih mendapatkan posisi pramugari.

Ibu tersenyum penuh kegembiraan, berulang menganggukkan kepala. Mungkin kakak beradik dalam usia tua ini memiliki empati dan merasakan kebanggaan bersama. Suami bibi telah meninggal karena sakit pada usia produktif. Bibi menjanda selama tiga puluh tahun, seorang diri membesarkan tiga anaknya hingga dewasa, dapat dikatakan telah merasakan pahit getirnya hidup.

Separuh hidupnya bekerja keras, memotivasi diri dan hidup berhemat dalam menopang rumah tangganya. Dengan susah payah membesarkan anak-anaknya, hingga akhirnya mereka  bisa membina keluarga sendiri.

Sekarang pahit getir hidup sudah berlalu datanglah kenikmatan hidup. Anak cucu yang penuh rasa bakti, hidup mengitarinya, bersama menikmati kebahagiaan keluarga tersebut. Ini kebahagiaan dunia yang tertinggi, sukacita yang datang pada usia senja, bernilai sempurna, bersedia berkorban dan penuh dedikasi juga merupakan kebahagiaan.

Minggu pagi, kami mencuci mobil di halaman rumput, berjumpa dengan pasangan tetangga yang baru pulang dari bepergian. Setelah saling menyapa, mereka mengatakan setelah pergi mendaki gunung dan berolahraga, aliran darah terasa lebih lancar, seluruh tubuh serasa lebih nyaman, sehingga sangat menganjurkan untuk sering berolahraga saat ada kesempatan.

Melihat wajah mereka yang berseri-seri dan energik, pantas menjadi promotor  olahraga. Terkenang, mereka berdua sudah berusia 50 tahun lebih merupakan pasangan yang dulunya sering bertengkar. Pada usia 18 tahun sang pemuda sudah berpacaran dengan pasangannya yang lebih tua dan kemudian segera menikah. Mereka telah mengalami banyak suka duka berumah tangga.

Sang suami selalu impulsif, mudah marah, untungnya sang istri selalu bersikap lembut, toleran, dan sekarang karirnya cukup sukses. Kini mereka telah menjadi kakek dan nenek, meskipun terkadang masih terdengar kekasaran sang suami, tapi reaksi istrinya selama puluhan tahun ini tetap sama, tanpa kebencian juga tidak ada penyesalan, bersedia mengalah untuk kepentingan bersama, juga merupakan kebahagiaan.

Mengamati gambar kebahagiaan, mereka memiliki pola beraneka ragam dan banyak perubahan, namun bila dicermati lebih lanjut terdapat ciri yang sama, yaitu puas dengan apa yang telah dicapai dan menerima dengan ikhlas nasibnya! Sukacita dan kebahagiaan suami maupun istri, masing-masing sudah ditakdirkan, berbagai macam coraknya.

Dalam periode waktu yang panjang, mereka telah mengembangkan sepasang mata yang tajam, mampu memahami dengan jelas pola berkumpul dan bercerainya makhluk dunia. Juga telah memperoleh kejernihan dan kebijakan untuk menanggapi serta memahami suka duka hidup manusia. Sedemikian adaptif dan begitu nyaman, masihkah memerlukan komentar tidak bertanggung jawab dan petunjuk orang lain?!

Ternyata, dapat hidup bersama sampai usia tua, mau berkorban dan bersedia mengalah untuk kepentingan bersama juga merupakan kebahagiaan! (Fang Jing/The Epoch Times/prm)

maspeypah
  • Digg
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • TwitThis

Artikel Menarik Lainnya



Komentar :

ada 0 comment ke “Mengalah juga Merupakan kebahagiaan”

Posting Komentar